Liburan ke Puncak Bogor

Pada tanggal 25 Mei 2019, Tepatnya 20 Ramadhan 1440 Hijriah ayahku mengajak kami sekeluarga untuk berlibur ke Puncak Bogor.

Awalnya aku dan adikku menolak untuk ikut, tetapi ayahku bilang tidak boleh tidak ikut. Kalau ayahku sudah angkat bicara tidak boleh ada yang protes. kalau protes bakal kena semprot sepanjang hari.

Lagipula saat itu momennya kami sekeluarga sedang komplit berkumpul di rumah. Kalau hari-hari biasa adikku (berada di Pondok Darul Fattah di Bangka) dan abangku nomor dua (namanya irvan, sedang kuliah di Universitas Airlangga Surabaya)  tidak berada di rumah.

Berangkat

Hari lebaran tiba, setelah shalat biasanya kami mengunjungi rumah kakek dari Ibuku, rumah Pak Sular, dan Rumah Opung Kaliawi. Rumah kakekku berada sangat dekat dengan rumah, Hanya berjarak 100 meter.

Di  Rumah, Opung (Sebutan kakek untuk orang Medan) sekarang tinggal sendirian sejak tahun 2017. Dikarenakan almarhumah nenekku sudah meninggal dan dimakamkan di Liwa Lampung Barat.

Tapi kakekku tidak 24 jam sendirian, setiap malamnya aku menginap di rumah kakekku untuk menjaganya. Sesudah mengunjungi rumah opung, langsung menuju tempat Pak Sular.

Pak Sular merupakan tetangga terdekat keluargaku, sekaligus pengusaha bakso yang sukses. Jadi setiap bertamu kesana pasti disuguhi Bakso buatannya yang rasanya tidak perlu diragukan lagi.

Setelah hari sudah siang tepatnya setelah shalat dzuhur kami biasanya pergi mengunjungi rumah opung di Kaliawi.

Rumahnya lumayan jauh, sekitar 12 km kurang lebih. Kalau yang di Kaliawi ini tidak ada hubungannya dengan keluarga kami. Hanya bermarga yang sama, sama-sama bermarga Nasution.

Namun walau begitu ikatan kami sangatlah erat, ayahku sudah dianggap seperti anaknya sendiri.

Disana merupakan surganya makanan, setiap kali kami kesana biasanya sudah tersedia berbagi makanan. Contohnya lontong, rendang, pempek, donat, dan berbagai kue lebaran yang semua makanan itu dibuat dengan tangan sendiri.

Hari ketiga lebaran, kami sekeluarga mulai berangkat dari Bandar Lampung jam 8 pagi menggunakan mobil.

Saat itu pertama kalinya kami lewat jalan tol dari Lampung, karena memang jalan tol tersebut baru diresmikan oleh Pak Presiden Jokowi 2 atau 3 bulan yang lalu.

Kami yang biasa pakai jalan bukan tol memakan waktu sampai 2 jam untuk bisa sampai ke Bakauheni Lampung Selatan. Setelah pakai jalan tol hanya memakan waktu setengah jam. Sesampai di bakauheni kendaraan harus menaiki sebuah kapal untuk sampai ke pulau Jawa.

Untuk sampai ke Pulau Jawa biasanya kapal memakan waktu 2 hingga 3 jam. Di sela waktu itu aku mengelilingi lantai-lantai yang ada di kapal. Pulau demi pulau kecil dilewati kapal hingga akhirnya sampai di Merak Banten.

Mobil akhirnya dapat melaju lagi, dan kami masuk ke jalan tol kembali. Satu per satu penanda jalan dilewati sampai mobil keluar dari tol untuk memasuki Daerah Citeurep.

Menginap di Rumah Sepupu Ayah

Setelah memasuki Daerah Citeurep ayahku menelepon sepupunya untuk menanyakan alamat rumahnya. Setelah diberi tahu alamatnya lalu aku menggunakan sebuah aplikasi bernama Google Maps. Dari situ pertama kalinya aku menggunakan Google Maps.

Akhirnya kami sampai kesana sekitar pukul 16.30. Kami kesana untuk mengunjungi sekaligus menginap di rumah (yang secara kebetulan masih baru beberapa bulan) sepupu ayahku. Dan kami sampai ke rumahnya sekitar pukul 17.30.

Sampai disana kami disuguhi makanan dan minuman. Banyak percakapan yang terjadi namun aku tidak pernah ikut dalam percakapan tersebut.

Sepupu ayahku memiliki 4 anak, 1 anak laki laki (anak ke-2), dan 3 anak perempuan. Singkat cerita kami menginap disana selama 1 hari. Sesaat kami akan meninggalkan rumah dari sepupu ayahku, kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto. Karena ayahku sudah lama tidak berjumpa langsung dengan sepupunya itu selama 20 tahun.

Menuju Puncak Bogor

Setelah meninggalkan rumah, kami menuju tujuan utama kami, yakni Puncak Bogor. Banyak tempat-tempat terlewati saat menuju kesana. Banyak juga kemacetan yang dialami apalagi saat berada cianjur.

Kemacetan dimulai dari Jalan Megamendung Ciawi, Jalan Raya Ciawi Cianjur, sampai Jalan Raya Puncak Cianjur.

Walaupun terjebak kemacetan, pemandangan sekitar membuat suasana kesal menjadi hilang, bahkan kami masih sempat-sempatnya berfoto karena terhipnotis pemandangan disana yang indah dan juga didukung dengan suhu yang dingin.

Dan ayahku memutuskan untuk mencari penginapan disekitar sana. Dan tiba di tempat penginapan, ayah ibu dan abangku yang pertama mencarikan kamar.

Sedangkan aku adikku dan abangku yang ke-2 sempat berbincang-bincang tentang bagaimana caranya kalau kita menjadi seorang fotografer. Karena banyak yang sudah sukses di bidang tersebut sambil memakan cemilan cilok yang masih hangatnya.

Mengunjungi Taman Bunga

Hari berikutnya tiba, setelah kami terbangun hendak melaksanakan shalat subuh. kami semua menggigil kedinginan karena suhu yang mencapai 16 derajat. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan selanjutnya yaitu mengunjungi taman bunga.

Entah apa yang terjadi saat mobil mau dipanaskan adikku mengamuk kepada abangku yang pertama, yang tahu akan konflik mereka berdua hanya mereka berdua.

Sehingga perjalanan kurang semangat seperti biasa karena pertikaian mereka berdua.

Sebelum sampai ke taman bunga kami menyempatkan untuk sarapan pagi di pinggir-pinggir jalan. Sate madura dan sop sapi menjadi menu sarapan kami, nafsu makan pun meningkat dikarenakan suhu yang amat dingin.

Setelah makan kami juga sempat membeli beberapa buah-buahan seperti markisa, jeruk dll.

Kami sampai ke taman bunga sekitar pukul 9 pagi. Saat kami sampai disana pengunjung masih sangat sepi. Dan kami pun membeli tiket untuk masuk.

Banyak momen yang kami foto, tapi kebanyakan yang berfoto ayah dan ibuku. Ada satu tempat yang membuatku tertarik yaitu taman bunga labirin dan air pancur yang mengikuti nada dari lagu yang diputar.

Terjebak Peralihan Jalan di Hari Minggu

Setelah selesai dari taman bunga, selanjutnya kami akan mengunjungi tempat yang mungkin bisa kukatakan Cimori Market, karena isinya bermerk Cimori semua.

Tapi sebelum kesana kami makan siang di rumah makan padang. Kami juga menyempatkan shalat Jama’ qashar untuk dzuhur dan ashar.

Setelah selesai shalat kami tidak jadi mengunjunginya karena hari sudah begitu sore, dan juga jalanan sudah mulai macet dan semakin macet.

Dan laju mobil semakin lama semakin seperti siput. Hingga akhirnya orang-orang pada keluar kesana kemari karena mobil-mobil sudah tidak dapat bergerak lagi seperti berada di parkiran kapal yang sedang berlayar dan kami belum mengetahui penyebab dari kemacetan yang terjadi.

Karena terlalu lama menunggu kamacetan berakhir, akhirnya kami memesan go-jek untuk mengantarkan ayahku ke tempat penginapan.

Dan sampai adzan maghrib dikumandangkan mobil kami masih belum jalan, dan kami mencari tahu apa penyebabnya sekaligus menuju masjid terdekat. Setelah dicari tahu ternyata kami sangatlah sial karena sedang terjadi peralihan jalan saat itu yang mengharuskan seluruh kendaraan sekitar menunggu hingga jam 10 malam. Keesokan harinya kami bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Sekian dari ceritaku saat berlibur ke Bogor, terima kasih sudah membacanya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.