Perjalanan Menuju Pondok Pesantren Sintesa

Sekilas Tentang Pondok Pesantren Sintesa

Tahukah Pondok Pesantren Sintesa merupakan pesantren yang berfokus pada Quran dan bisnis Online.

Sintesa memiliki 3 program :

  1. Program Akademi ( program yang kujalani): merupakan program belajar selama setahun untuk putra dan putri untuk yang berusia 19-25 tahun.
  2. Program Kilat : merupakan program untuk semua usia selama 5 hari.
  3. Program High School: dikhususkan untuk putra lulusan SMP/sederajat.

Survey tempat Pondok Pesantren

Hari itu saat kepulangan dari perjalanan liburan ke Bogor, aku dan adikku ditawari oleh Abangku yang kedua untuk memasuki pondok pesantren.

Dan aku menyetujuinya saja. Kami berdua ditawari bermacam-macam pesantren dan akhirnya sampai ke pemilihan akhir hanya dua pesantren. Yang pertama Indonesia Quran Foundation (IQF) dan kedua Pondok pesantren Sintesa.

Aku bingung mau memilih yang mana, IQF yang fokus terhadap hafalan  Quran sekaligus memiliki tempat yang strategis untuk berwisata, dan  Pondok pesantren Sintesa yang memiliki keunikan dibanding Pesantren yang lain, yakni fokus pada bisnis online dan Qur’an. Dan akhirnya aku memilih mendaftar keduanya

 

Tes Wawancara IQF

Hari-hari terus berlanjut hingga tes wawancara IQF tepatnya pada hari jumat pagi. Beberapa pertanyaan dilontarkan hingga durasi tiga puluh menit.

Pertanyaan yang diberikan lebih cenderung ke arah sikap yang kita ambil dibanding tekad. Dan siangnya setelah shalat Jumat giliran adikku yang diwawancara. Enaknya dia diwawancarai hanya melalui chatting via WA saja.

 

Mendaftar Sintesa

Sampai pengumuman tiba pada tanggal 21 Juli aku dan adikku lulus. dan sudah harus berada di pondok sebelum tanggal 24 Juli.

Setelah pengumuman aku langsung mencoba mendaftar Sintesa. dari situ aku agak kaget, karena pendaftarannya harus menggunakan video. Karena baru pertama kalinya aku membuat sebuah video blog (vlog), aku hampir mengurungkan niat untuk mendaftarkannya.

Di samping itu juga keluargaku terkena musibah, kakekku harus dioperasi dikarenakan penyakitnya kambuh. Niat untuk menjadi santri hampir kandas. Tetapi motivasi untuk mendaftarkan ke Sintesa hari demi hari semakin kuat.

Lalu aku mencari referensi video para calon santri pesantren Sintesa, mulai dari yang pertama kali kulihat adalah Faris, kemudian Fauzi, Elang, dan Dedek. Yang nantinya mereka semua merupakan teman-temanku saat di Sintesa.

Namun salah satu dari mereka harus pulang, namanya Elang. Dia  harus pulang karena kondisi keluarganya yang tidak memungkinkan. dan aku bisa mengerti saat melihat videonya mengapa dia memutuskan untuk berhenti, karena dia merupakan tulang punggung keluarganya.

 

Diterima di Pesantren Sintesa

Selama seminggu video yang kubuat akhirnya selesai dan juga merupakan hari terakhir pendaftaran Sintesa.

Keesokan harinya tes wawancara pun dimulai, saat itu aku sedang berada di rumah sakit yang sudah menjadi jadwalnya ayahku Kemoterapi karena penyakit kanker yang diderita.

Pertanyaan pertanyaan yang ditanyakan, menurutku pertanyaannya lebih cenderung ke tekad dibanding sikap-sikap yang diambil.

Hari pengumuman tiba, akhirnya aku lulus menjadi santri di Pondok Pesantren Sintesa.

 

Kemas-kemas Barang

Berbagai macam barang yang harus dibawa diantaranya, pkaian sehari-hari, alat mandi, KTP, jaket, peci, kopiah, sorban, baju koko, pakaian olahraga.

Saking banyaknya barang yang dibawa saya sampai mengeluh karena barangnya terlalu banyak. Bukan karena terlalu banyaknya barang sih

Tapi…

mengeluh karena menggunakan koper yang sedikit rusak, bagian yang biasa untuk menarik koper rusak.

jadi selama perjalanan rasa pegal sangat terasa sekali

 

Perjalanan Menuju Jakarta

Hari keberangkatan akhirnya tiba, saat itu aku berangkat bersama orangtuaku. Aku dan orangtuaku pergi menuju Jakarta terlebih dahulu dengan menggunakan Bus DAMRI.

Selama perjalanan aku hanya tidur karena berangkatnya pukul 9 malam. Dua jam berlalu hingga akhirnya naik kapal.

Begitu bus sudah parkir dengan benar, aku dan orangtuaku bergegas menuju ruangan tidur.

Dan secara mengejutkan kami bertemu paman dari adik kandung ibuku di ruangan itu.

Percakapan antara paman dan orangtuaku pun terjadi, hingga akhirnya kapal sampai menuju Merak, Banten. Perjalanan dengan bus kembali berlanjut.

 

Menunggu Siang Hari

Akhirnya bus sampai menuju Stasiun Gambir, Jakarta. Saat itu hari masih dini bertepatan dengan adzan subuh.

Jarak untuk menuju masjid sekitar 150 meter. Dengan koper seperti itu rasa pegal sangat terasa saat itu. Setelah sampai  aku langsung bergegas untuk shalat.

Setelah shalat aku pergi keliling sekitar stasin gambir, dan berbelanja beberapa cemilan untuk perjalanan di kereta menuju Stasiun Gubeng, Surabaya.

Aku dan orangtuaku akhirnya menunggu siang hari tiba, di sela-sela itu aku dan ayahku menyempatkan waktu untuk membayar biaya masuk Sintesa.

Begitu banyak orang berlalu di stasin dan akhirnya jam menunjukkan pukul sebelas. Dan bergegas menuju Stasiun Pasar Senen menggunakan Go-Car.

Di stasiun masih sempat makan, shalat dzuhur, dan mendengarkan nasihat orangtuaku. Banyak sekali  nasihat yang diberikan kepada orangtuaku saat itu, karena pertama kalinya aku menjadi seorang santri.

Dan jam akhirnya menunjukkan pukul 14.20, merupakan waktu keberangkatan kereta, aku akhirnya berpisah dengan kedua orangtuaku.

Karena hanya kebetulan saja aku berangkat bersama orangtuaku.

Orangtuaku mempunyai tujuan yang berbeda, mereka pergi ke Jakarta karena Sepupuku akan mengadakan akad nikah sekaligus menemui adikku yang berada di Depok yang baru saja memondok disana.

 

Menuju Stasiun Gubeng, Surabaya

Kereta akhirnya Jalan. Aku duduk disebelah yang mungkin keturunan orang Maluku, atau NTT. Sesekali aku mendengar bahasa daerahnya saat ditelpon oleh orangtuanya, dan mungkin saja dia sebaya denganku.

Orangnya cukup ramah menurutku. Setiap pemberhentian kereta di tiap stasiun-stasiun dia pasti langsung keluar dari kereta untuk menghisap rokok-rokoknya.

Oh iya…

Aku cukup kaget…

Saat itu ada pegawai kereta yang menawarkan makanan untuk makanan siang.

Harganya sangat mahal, nasi goreng saja seharga 35.000 rupiah.

Wow…

mahal sekali, kan. Padahal biasanya nasi goreng yang kubeli hanya 10.000 sampai 12.000. perjalanan pun sudah mencapai tujuh jam perjalanan.

Hari sudah semakin larut malam, dan juga semakin dingin ditambah AC yang sangat amat dingin. Dan aku harus menahannya selama lima jam perjalanan. Dan akhirnya saat sampai Stasiun Gubeng, aku langsung keluar dari kereta, untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan.

 

Surabaya Menuju Magetan

Setelah sampai di stasiun Gubeng, aku menghubungi kakakku untuk menjemputku. Tak lama kemudian abangku langsung menjemputku menuju tempat kosan-nya.

Dan aku pun menginap di tempat abangku selama dua hari. Di hari pertama aku menemukan permainan baruku, biasanya aku bermain Mobile Legend tapi sekarang tertarik dengan Chess Rush.

Di malam harinya abangku mengajakku menuju salah satu warkop tempat biasa abangku numpang Wi-fi gratis hihi. Disana aku hanya main game di smartphone, sedangkan abangku mengerjakan pekerjaannya. sekali-kali dia mengajakku mabar (main bareng).

Hari kedua aku diajak abangku untuk makan mi yang rasanya sangat pedas. Hari ketiga tiba, aku dan abangku pergi menuju Stasiun Gubeng yang bertujuan menuju Stasiun Madiun.

Sesampai di stasiun akhirnya tujuan akhir akhirnya tiba, menuju pondok sintesa di Magetan, dari stasiun menuj Magetan membuthkan waktu setengah jam.

Sekian dari pengalaman saya menuju Sintesa, semoga kalian dapat membacanya sampai akhir, big thanks to you.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.