sistem ekskresi pada hewan

Sistem Ekskresi Pada Hewan

Sistem ekskresi pada hewan merupakan hal pokok dalam homeostasis, hal itu dikarenakan sistem ekskresi membuang limbah metabolisme dan merespon terhadap ketidakseimbangan cairan tubuh dengan cara mengekskresikan ion-ion tertentu.

Sebagian besar sistem menghasilkan urin dengan cara menyaring filtrat yang diperoleh dari cairan tubuh. Setiap jenis hewan memiliki sistem ekskresi yang beraneka ragam, tetapi semuanya mempunyai fungsi yang hampir sama.

Sistem ekskresi pada hewan terbagi dua, yaitu sistem ekskresi hewan vertebrata dan sistem ekskresi hewan avertebrata atau invertebrata. Pada artikel ini kamu akan mempelajari sistem ekskresi pada hewan beserta fungsi-fungsinya.

Sistem Ekskresi Pada Hewan Vertebrata

Hewan vertebrata adalah hewan yang bertulang belakang. vertebrata dibagi menjadi 5, yaitu mamalia, pisces, aves, amfibi, dan reptil. Kelimanya memiliki sistem ekskresi yang berbeda. Berikut merupakan penjelasan dari sistem ekskresi yang tergolong pada hewan vertebrata.

Sistem Ekskresi Pada Mamalia

Ekskresi pada mamalia umumnya sama seperti yang dimiliki manusia. Alat ekskresi pada mamalia adalah kulit, paru-paru, ginjal, dan hati. Kulit mengeluarkan keringat, ginjal mengeluarkan urin, hati mengeluarkan urea, dan paru-paru mengeluarkan karbon dioksida.

sistem ekskresi pada hewan
(biology-forums.com)

Setiap mamalia pasti mengalami yang namanya pembuangan urine. Urine terjadi dalam 3 proses, yang pertama adalah proses filtrasi (penyaringan). Filtrasi terjadi di badan malpighi yang terdiri dari kapsula bowman dan glomerulus.

Glomerulus berfungsi menyaring air, garam, glukosa, asam amino, urea dan limbah lainnya. Proses yang kedua adalah proses reabsorpsi (penyaringan kembali). Reabsorbsi terjadi di tubulus proksimal nefron, lengkung henle (loop of henle), tubulus kontortus distal, dan tubulus kolektivus.

Pada proses ini biasanya semua glukosa diserap kembali. Namun, pada penderita diabetes, kelebihan glukosa tetap bertahan dalam filtrat. Natrium dan ion-ion diserap kembali secara tidak lengkap. Dan dengan proporsi yang lebih besar tersisa dalam filtrat ketika lebih banyak dikonsumsi dalam makanan, menghasilkan konsentrasi darah yang lebih tinggi.

Ion seperti natrium dan fosfor diserap kembali oleh hormon pengatur proses transport aktif. Proses yang ketiga adalah proses augmentasi. Urine yang dibuat pada proses augmentasi, selanjutnya akan mengalir ke bagian tengah ginjal yang disebut pelvis ginjal. Setelah itu terus mengalir ke ureter dan tersimpan di kandung kemih.

Dari kandung kemih, kemudian urine akan mengalir ke uretra dan dibuang keluar saat buang air kecil.

Fungsi ginjal dalam sistem ekskresi ini adalah sebagai berikut.

  • Mengeluarkan (ekskresi) limbah metabolisme dari dalam tubuh.
  • Menyaring zat-zat sisa dari dalam darah
  • Mengekskresikan gula darah yang melebihi kadar normal
  • Menyeimbangkan kadar cairan dan elektrolit.
  • Mengatur tekanan darah.
  • Regulasi sel darah merah.
  • Membantu penyerapan kalsium dan menjaga kesehatan tulang
  • Mengatur kadar asam, basa, dan garam dalam tubuh

Sistem Ekskresi Pada Pisces (Ikan)

sistem ekskresi pada hewan ikan

Ikan memiliki tiga organ atau alat yang berperan sebagai sistem ekskresi, yaitu insang, ginjal, dan kulit. Saluran genitalia dan ginjal bermuara di lubang yang sama, yaitu lubang urogenital. Fungsi lubang urogenital fungsinya mirip seperti punya manusia.

Saluran urin dan genital bermuara di tempat yang searea, namun berbeda lubang. Insang dan kulit pada ikan berfungsi sebagai sistem pernapasan ikan. Insang akan membuka dan menutup bersinergi dengan membuka dan menutupnya operculum.

Lalu insang akan menyaring air yang masuk melaluinya dan mengikat oksigen yang ada di sana, lalu melepaskan karbon dioksida.

Sistem Ekskresi Pada Aves

siste ekskresi pada hewan burung

Aves atau burung identik dengan keunikan pada struktur paruh dan kaki yang berhubungan langsung dengan kebiasaan mereka. Alat ekskresi pada aves berupa sepasang ginjal metanefros. Ginjal dihubungkan oleh ureter ke kloaka, karena burung tidak memiliki vesika urinaria. Burung memiliki jumlah tabung ginjal yang lebih banyak daripada mamalia karena kecepatan metabolisme burung sangat tinggi.

Sampah nitrogen dibuang sebagai asam urat yang dikeluarkan melalui kloaka menjadi kristal putih yang bercampur feses. Pada burung laut, selain mengekskresikan asam urat juga mengekskresikan garam. Hal ini disebabkan burung laut meminum air garam dan makan ikan laut yang mengandung garam.

Burung laut mempunyai kelenjar yang berguna sebagai ekskresi pada garam di atas mata. Larutan garam mengalir ke rongga hidung kemudian keluar melalui nares luar dan akhirnya garam menetes dari ujung paruh.

Sistem Ekskresi Pada Amfibi

Hal yang sangat identik pada amfibi adalah dapat hidup di dua alam, salah satu contohnya adalah katak. Ginjal katak berhubungan dengan ureter dan urinaria, sedangkan keluar melalui kloaka. Saat katak mengalami metamorfosis, hasil ekskresinya juga mengalami perubahan.

Pada saat larva, mengeluarkan amonia. Setelah berkembang jadi berudu dan dewasa, mengekskresikan urea. Alat ekskresi pada katak adalah ginjal opistonefros yang dihubungkan dengan ureter saat di vesika urinaria.

Berwarna merah kecoklatan serta terletak di kanan dan kiri tulang belakang. Alat ekskresi lainnya ialah kulit, paru-paru, dan insang. Pada katak jantan memiliki saluran ginjal dan saluran kelamin yang menyatu, sedangkan katak betina tidak menyatu.

Saat berada pada fase metamorfosis, amfibi mengubah ekskresi amonia menjadi urea. Hal ini terjadi saat larva berubah jadi berudu dan hewan darat dewasa. Seperti halnya ikan, ginjal pada katak juga berperan dalam pengaturan kadar air dalam tubuh.

Ginjal amfibi sama dengan ginjal ikan air tawar yaitu berfungsi untuk mengeluarkan air yang berlebih. Karena kulit katak bersifat menyerap air, maka pada saat ia berada di air banyak air yang masuk ke tubuh katak secara osmosis. Pada saat ia berada di darat katak harus melakukan konservasi air dan tidak membuangnya.

sistem ekskresi amfibi
(biologywebblog.wordpress.com)

Katak menyesuaikan dirinya terhadap kandungan air dengan cara mengatur laju filtrasi yang dilakukan oleh glomerulus. Sistem portal renal berfungsi untuk membuang bahan-bahan yang diserap kembali oleh tubuh selama masa aliran darah melalui glomerulus dibatasi. Katak juga menggunakan kantong kemih untuk konservasi air.

Apabila sedang berada di air, kantung terisi urine yang encer. Pada saat berada di darat, air diserap kembali ke dalam darah menggantikan air yang hilang melalui evaporasi kulit. Hormon yang mengatur adalah hormon yang sama dengan ADH. Katak dapat mengatur laju filtrasi dengan bantuan hormon, sesuai dengan air di sekitarnya.

Ketika berada di dalam air dengan jangka waktu yang lama, katak berada dalam air dengan jangka waktu yang lama, katak mengeluarkan urine dalam volume yang besar. Namun, kandung kemih katak mudah terisi air. Air tersebut dapat diserap oleh dinding kandung kemihnya sebagai cadangan air ketika katak berada di darat untuk waktu yang lama.

Alat Ekskresi Pada Amfibi

Alat ekskresi utama katak berupa ginjal mesonefros. Ginjal pada katak berjumlah sepasang. Terletak di kanan dan di kiri tulang belakang. Pada katak jantan, saluran ginjal bersatu dengan saluran kelamin, sedangkan pada katak betina terpisah.

Sistem Ekskresi Pada Reptil

Ekskresi dilakukan terutama oleh dua ginjal kecil. Dalam buaya, ular, kadal, dan tuatara, asam urat adalah produk limbah yang mengandung nitrogen. Kura-kura berekskresi seperti mamalia, yaitu dengan cara mengeluarkan urea.

Berbeda dengan ginjal mamalia dan burung, ginjal reptil tidak dapat menghasilkan urin cair yang lebih terkonsentrasi daripada cairan tubuh mereka. Ini karena mereka tidak memiliki struktur khusus yang ada di nefron burung dan mamalia yang disebut Loop of Henle.

Karena itu, banyak reptil menggunakan usus besar untuk membantu penyerapan kembali air. Beberapa juga dapat mengambil air yang disimpan di kandung kemih. Garam berlebih juga diekskresikan oleh kelenjar garam yang ditemukan di saluran hidung dan lidah beberapa reptil. Iguana laut, ditunjukkan pada gambar di bawah, mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar garam lingual (lidah) mereka.

sistem ekskresi pada hewan
Iguana laut mengeluarkan garam yang menumpuk di sekitar hidung mereka, menyebabkan bagian atas kepala mereka tampak putih. (ck12.org)

Sistem Ekskresi Pada Avertebrata

Hewan vertebrata adalah hewan yang bertulang belakang. yang termasuk hewan avertebrata adalah cacing, insecta, protozoa, coelenterata, porifera. Kelimanya memiliki sistem ekskresi yang berbeda. Berikut merupakan penjelasan dari sistem ekskresi yang tergolong pada hewan avertebrata.

Sistem Ekskresi Pada Cacing

Cacing dibagi menjadi 3, yaitu platyhelminthes, nemathelminthes, dan annelida. Secara umum, ketiganya mempunyai sistem ekskresi yang mirip. Berikut merupakan penjelasan mengenai sistem ekskresi pada ketiganya.

Sistem Ekskresi Pada Platyhelminthes dan Nemathelminthes

Sistem Ekskresi Cacing Pipih
cacing pipih (biologisma.com)

Platyhelminthes mempunyai alat ekskresi yang sangat sederhana. Misalnya saja planaria. Planaria memiliki alat ekskresi berupa sel api yang terletak di bagian kanan dan kiri tubuhnya. Setiap sel api memiliki rambut getar (silia). Saluran yang berperan dalam proses ekskresi. contohnya adalah cacing pipih

Planaria dinamakan protonefridium. Perhatikan gambar di bawah, Pergerakan rambut getar akan menarik air dan zat terlarut ke dalam sel api untuk disaring. Getaran silia akan membawa sisa metabolisme keluar tubuh melalui suatu lubang pengeluaran yang disebut nefridiopori.

Nemathelminthes mempunyai alat ekskresi yang terdiri atas 2 saluran lateral yang bermuara di sebuah lubang di bagian ventral.

Sistem Ekskresi Pada Annelida
Sistem Ekskresi Cacing tanah
cacing tanah (gurusma.com)

Annelida mempunyai alat ekskresi khusus, yaitu berupa nefridia yang terletak di setiap segmen tubuh Annelida. Setiap segmen terdapat sepasang nefridia, Nefridia yang berpasangan disebut dengan metanefridia. Nefridia dilengkapi dengan corong terbuka dan bersilia yang disebut dengan nefrostom yang terletak pada setiap sekat pemisah segmen.

Nefrostom berfungsi mengambil dan menarik cairan tubuh. Saat cairan tersebut melalui nefridia, zat zat yang berguna diserap darah dan zat sisa, seperti air, senyawa nitrogen, dan garam-garam yang tidak diperlukan oleh tubuh ditampung di dalam kantong kemih.

Selanjutnya zat sisa tersebut dikeluarkan melalui nefridiofor (lubang nefridium). Contoh annelida adalah cacing tanah. Cacing tanah mengeluarkan urine per hari sebanyak 60% dari berat tubuh.

Sistem Ekskresi Pada Insecta

 

(genggaminternet.com)

Alat pengeluaran pada serangga dinamakan pembuluh malpighi yang merupakan pembuluh-pembuluh halus berwarna putih kekuningan yang terletak diantara usus tengah dan usus belakang.

Pembuluh malpighi merupakan alat pengeluaran yang berfungsi seperti ginjal. selain pembuluh malpighi, Serangga juga mempunyai  sistem ekskresi yang bernama trakea. Trakea berfungsi mengeluarkan zat sisa hasil proses oksidasi berupa karbon dioksida. Sistem trakea ini berfungsi seperti paru-paru.

Nitrogen merupakan zat sisa metabolisme yang sebagian digunakan kembali dalam pembuatan zat kitin. Nitrogen yang sebagian lagi dibuang dalam bentuk urat kering.

Sistem Ekskresi Pada Protozoa

(fiskadiana.blogspot.com)

Hewan uniseluler belum mempunyai alat ekskresi khusus. Zat-zat sisa dikeluarkan oleh rongga berdenyut (vakuola kontraktil) secara difusi. Fungsi utama vakuola kontraktil adalah sebagai pengatur keseimbangan cairan plasma dengan lingkungan (osmoregulator). Contoh protozoa yang menggunakan vakuola kontraktil adalah paramecium.

Sistem Ekskresi Pada Coelenterata

(biologigonz.blogspot.com)

Coelenterata adalah hewan yang tidak memiliki sistem ekskresi. Sehingga mengeluarkan zat sisa metabolisme secara difusi melalui sel-sel epitel pada rongga gastrovaskular. Limbah metabolisme yang terlarut dalam cairan tubuh gastrovaskular (rongga perut) akan dikeluarkan melalui mulut ke lingkungan.

Sistem Ekskresi Pada Hewan Porifera

(zonasiswa.com)

Sama seperti coelenterata, Porifera juga tidak memiliki sistem ekskresi. Sistem ekskresi pada porifera dikeluarkan melalui proses difusi sel-sel penyusun dinding spongosol. Kemudian akan  dikeluarkan bersama-sama melalui oskulum (lubang besar pada bagian atas permukaan tubuh porifera) ke perairan.

Sekian pembahasan penjelasan singkat mengenai Sistem Ekskresi pada Hewan semoga bermanfaat. Terima Kasih!!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.